Ojek Sudirman-Thamrin - Tiada Ojek di Paris
Ojek Sudirman-Thamrin - Tiada Ojek Di Paris
Dari semua esai yang sudah saya baca di dalam buku ‘Tiada Ojek Di Paris’ sejauh ini, tidak ada esai yang benar - benar membahas seperti dengan judul buku ‘Tiada Ojek Di Paris’ itu sendiri kecuali esai yang satu ini. Di dalam esai ini, ojek benar - benar dibahas. Di dalam kalimat pertamanya pun, sang penulis menuliskan, ‘Sebulan di Paris, terkurung dalam ruang kecil, setiap kali mengetik cerita bersambung untuk Koran Suara Merdeka, Semarang, saya berhadapan dengan sebuah poster di tembok: OJEK SUDIRMAN-THAMRIN’. Tak hanya itu, sang penulis juga menjelaskan dan membahas tentang sebuah peta ojek sampai ke detil - detilnya. Di bagian - bagian akhir esai ini, terdapat penjelasan yang menurut saya sangat menarik. Dari penjelasan itu, saya bisa akhirnya mengerti dengan apa yang di maksud dari judul buku ‘Tiada Ojek Di Paris’. Esai ini benar - benar menarik perhatian saya. Hanya terdapat 3 esai lagi, dan saya rasa esai kali ini adalah esai favorit saya di dalam buku ‘Tiada Ojek Di Paris’.
Comments
Post a Comment