Jeritan Dalam Botol - Sihir Perempuan, Intan Paramaditha

Bab 8 : Jeritan Dalam Botol 

Terdapat seorang perempuan sihir yang bernama Sumarni. Sumarni merupakan perempuan teluh yang bersekutu dengan setan. Kulitnya seperti sarung tangan tipis yang sekedar menutupi kerangka. Seorang pemuda bernama Gita mendatangi rumah Sumarni untuk melakukan penelitian. Gita merasakan bau asing menyengat, dan rumah itu tidak menerbarkan aroma kehidupan. Letak rumah Sumarni jauh dari kota dan berada di area terpencil. Di atas dahi Sumarni, terdapat stempel merah menyala yang tak akan pernah hilang. Ia percaya bahwa demi sebuah kehidupan, kita harus mematikan yang lain. Karena itulah ia bersekutu dengan setan. Entah mengapa, Gita tak merasa setakut seperti ia awalnya terhadap Sumarni. Sumarni pun mengajaknya ke sebuah kamar di dalam rumah itu. Di sana, terdapat banyak sekali botol - botol selai, yang mungkin jumlahnya hingga ratusan. Botol - botol selai itu berisi untuk menampung jeritan. Gita pun bingung kenapa jeritan perlu ditampung, dan Sumarni mengatakan bahwa jika tidak di tampung, jeritan itu akkan menguap di udara dan meninggalkan perempuan bisu untuk selama - lamanya. 

Sumarni membuka sebuah botol selai dan terdengar suara lolongan panjang yang memilukan. Makhluk yang keluar dari botol itu begitu kurus, tapi beban tubuhnya membuat Gita terengah. Bibir makhluk itu berbau anyir, mengeluarkan suara nyaring yang memekakkan telinga, seperti suara neraka. Sumarni pun lalu cepat - cepat menutup botol selai itu kekmbali. Hati Gita berdebar dengan cepat, karena ia merasakan ketakutan. Gita pun memutuskan untuk pulang, dan Sumarni berusaha untuk memberikan Gita sebuah botol kaca. Gita enggan untuk mengambilnya, dan ia mempercepat langkahnya keluar, tak ingin menoleh ke belakang, di tengah hujan yang sudah cukup deras. Sumarni pun tersenyum sedih sambil melihat Gita pergi, namun ia berkata bahwa ia akan selalu menyimpan botol selai itu untuk Gita. 


Di dalam cerpen yang kali ini, saya menganggapnya sebagai cerpen yang unik. Ceritanya tidak gampang untuk ditebak oleh para pembaca, karena terdapat hal - hal yang mengejutkan sepanjang cerpen ini. Tak hanya itu, ada beberapa hiperbola yang di gunakan di dalamnya, seperti saat Sumarni mengatakan kata ‘ suara neraka ‘ untuk mendeskripsikan suara yang begitu nyaring. Suara nyaring bukan berarti itu suara neraka. Lagian, siapa yang sebenarnya tahu bagaimana suara neraka itu? Namun si penulis menggunakan ‘ suara neraka ‘ untuk mendeskripsikannya dan ini hal yang bagus dan juga menarik, sehingga saat pembaca membacanya, mereka tidak begitu bosan. Penulisan yang bagus memang pada dasarnya membutuhkan berbagai alat sastra agar membuat ceritanya lebih menyenangkan untuk dibaca. 

Comments

Popular posts from this blog

Mak Ipah dan Bunga Bunga - Sihir Perempuan, Intan Paramaditha

Misteri Polaroid - Sihir Perempuan, Intan Paramaditha

Listrik Mati - Tiada Ojek di Paris