Darah - Sihir Perempuan, Intan Paramaditha
Bab 10 : Darah
Bab ke sepuluh yang menceritakan tentang sebuah gadis yang ditinggal ibunya meninggal saat ia masih kecil saat melahirkan adiknya. Ibunya maupun adiknya meninggal dunia karena tak selamat. Ia mengalami menstruasi jauh lebih dahulu daripada teman - teman lainnya di sekolah. Setelah ibunya meninggal, ia sering di ceramahi oleh Ustadzah, seorang teman ayahnya, untuk membahas hal - hal perempuan. Ia dulunya selalu merasa malu karena menstruasinya, terutama saat darahnya tembus di rok putihnya. Sebagai semi - pengganti ibunya, Ustadzah memberikan banyak sekali nasihat - nasihat, terutama soal kewanitaan. Sehingga, saat ia tak ada ibunya, ia masih mempunyai seseorang untuk bercerita atau mendiskusikan tentang hal - hal yang terkait dengan menstruasi. Ustadzah memberi tahu bahwa ia harus mencuci celana dalamnya sendiri dan setiap pembalut yang telah dipakai, harus di cuci sebelum membungkus dengan koran. Tentunya, seorang gadis sepertinya akan terheran - heran, mengapa harus begitu? Maka Ustadzah pun menjelaskan bahwa terdapat sebuah kisah dimana ada seorang wanita yang mengganti pembalut di sebuah WC umum. karena terburu - buru, wanita itu lupa mencuci pembalutnya dan langsung membuang ke tempat sampah. Sesampainya ia diluar, ia baru teringat bahwa cincinnya tertinggal di dalam. Saat ia berlari kembali ke dalam WC umum itu untuk mengambil cincinnya, terdapat seorang perempuan berambut panjang yang sedang menjongkok, yang sedang menjilati pembalut yang dipadati darah. Maka dari penjelasan Ustadzah mengenai menstruasi, gadis itu menganggap bahwa menstruasi dalah hal yang berkaitan dengan darah, dosa, tubuh kotor, dan semacamnya.
Saat ia bertumbuh dewasa, ia mulai mengelani hubungan seksual antara pria. Ia pun memutuskan untuk melakukan IUD, yaitu salah satu metode untuk mencegah kehamilan. Setelah melakukan IUD ia berdarah tambah banyak, banyak sekali. Singkat cerita, karena beberapa hal tertentu, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Setelah ia meminta ijin untuk berhenti kerja, ia memasuki toilet kantor. Saat ia membuka salah satu pintu toiletnya, terdapat seorang perempuan disana. Ia terkejut karena perempuan itu adalah perempuan yang berambut panjang, seperti yang dicertiakan oleh Ustadzah. Lagi lagi, perempuan itu tengah menjilati darah yang ada di pembalut. Gadis ini tak merasa takut sama sekali, malah ia begitu ingin untuk melihat wajah perempuan itu.
Cerita di dalam bab 10 ini tak terlalu panjang, namun tak terlalu pendek juga. Terdapat beberapa hal yang terdengar mistis di cerita, namun tetap dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata sehari - hari. Ustadzah mengajari gadis itu untuk mencuci pakaian dalamnya sendiri, dan membersihkan pembalut yang telah dibagai sebelum dibungkus dengan koran dan mengkaitkannya dengan seorang perempuan yang menjilati darah. Di dalam kehidupan nyata ini, hal itu dapat diterapkan, namun bukan supaya perempuan itu tidak menjilati darah dari bekas pembalut kita, namun agar kita menjadi seseorang yang bersih dan tidak jorok. Sangat menarik jika sesuatu yang mistis dapat dikaitkan juga dengan hal - hal yang bisa diterapkan sehari - hari. Alur yang digunakan di dalam cerita ini merupakan alur campuran. Karena, awalnya memang alur dari cerita ini maju, Namun sampai tengah - tengah cerita, terdapat beberaapa momen dimana tokoh utamanya mengalami flashback akan masa - masa kecilnya, namun lanjut lagi dengan alur maju. Karena itulah bisa dibilang bahwa alur di dalam cerita ini adalah alur campuran.
Comments
Post a Comment