Posts

Jakarta-Bandung, Bandung-Jakarta - Tiada Ojek di Paris

Jakarta-Bandung, Bandung-Jakarta - Makna Sebuah Jarak Seperti judulnya, memang esai ini membahas akan jarak antara Jakarta dan Bandung. Sang penulis menuliskan tentang hal yang benar - benar dapat dialami dan dilihat oleh masyarakat Jakarta maupun Bandung. Oleh karena itu, saya rasa penulis sangatlah pintar karena ia memilih untuk membahas suatu hal yang nyata, yang dapat dirasakan oleh orang - orang. Orang akan menjadi lebih tertarik dalam membacanya karena mereka rasa mereka bisa relate pada isi dari esai itu. Bahasa yang digunakan di esai ini adalah Bahasa Indonesia yang tidak formal, jadi bahasanya lebih santai. Karena esai ini juga esai yang santai, maka saya rasa sangat cocok bisa bahasa yang digunakan adalah bahasa yang santai. Dengan ada beberapa penggunaan Bahasa Inggris, membuat esai ini tergolong isi bilingual. Namun, jika anda tidak bisa berbahasa Inggris, janganlah takut. Penggunaan kata Bahasa Inggris hanya 2 hingga 3 kali, jadi tak masalah jika anda tak bisa berbah...

Mobil - Tiada Ojek di Paris

Mobil : Sebuah Mitos - Mobil, Untuk Seterusnya, Akan Terbebani Makna Konotatif Dari membaca esai ini pertama kali, saya langsung dapat mengetahui bahwa esai ini bukanlah esai yang formal atau serius. Dari kata pertamanya saja, para pembaca dapat mengetahui bahwa esai ini bersifat lebih nyantai. Walaupun lebih nyantai, esai ini justru lebih panjang daripada esai - esai lainnya. Menurut saya, esai ini sungguh menarik karena terdapat sebuah kisah antara Bung Karno dan Cindy Adams. Saya rasa itulah yang membuat esai ini lebih panjang daripada esai - esai sebelumnya. Menurut saya, banyak orang akan menyukai esai ini. Lagipula, siapa yang tidak suka Bung Karno? Mereka yang menyukai Bung Karno pasti akan menyukai esai satu ini.

Taman - Tiada Ojek di Paris

Taman - Taman Dengan Kolam dan Air Mancur di Jakarta Sangat Berguna Bagi Anak-Anak Singkong Mirip dengan beberapa esai - esai pertama di dalam buku Tiada Ojek di Paris, esai ini memuat teks dari sumber lain kedalam esai nya. Di esai kali ini, teks yang dimuat adalah sebuah naskah sandiwara yang terbit tahun 1957 di Belanda. Menarik, bukan? Juga, sang penulis menggunakan banyak sekali terms - terms di dalam kalimatnya. Contohnya adalah ‘Anak - anak singkong’. Yang dimaksud dengan sang penulis tentunya bukan anak singkong yang dapat dimakan dengan santan itu. Bahasa yang digunakan dalam esai ini cukup rumit, namun jelas. Saya mengatakan demikian karena sang penulis menyertakan penjelasan untuk setiap kata yang ia rasa kurang umum. Hal seperti itu sangatlah bermanfaat untuk para pembaca karena dapat membantu para pembaca untuk mengerti lebih lagi akan isi dari esainya.

Atas Nama Infotainment? - Tiada Ojek di Paris

Atas Nama Infotainment? - Meskipun Kepada Public Figure, Kita Tak Berhak Membongkar Privacy - nya. Esai yang dituliskan oleh penulis satu ini sangat menarik namun dapat membuat banyak orang kesal. Mengapa demikian? Karena sang penulis membahas bahwa ia tak setuju akan suatu hal yang kebanyakan orang sukai, yaitu gosip / hal - hal pribadi mengenai figur publik. Tentunya kebanyakan orang sungguh menyukai figur - figur publik yang ada diluar sana, bahkan sampai mengidolakan mereka. Nah, esai satu ini bersifat sedikit menyindir dan menyinggung orang - orang yang menyukai hal - hal seperti itu. Sang penulis mengatakan bahwa figur publikpun harusnya mempunyai privasi yang tak seharusnya dibongkar dan ditulis di blog atau apapun. Dilihat dari susunan kata dan kalimatnya, saya dapat merasa bahwa sang penulis agak kesal dan ia bertujuan untuk menyindir orang - orang diluar sana yang tak bisa menghargai bahwa figur publik pun juga butuh privasi. Walaupun demikian, esai ini sungguh bagus da...

Jakarta Kosong - Tiada Ojek di Paris

Jakarta Kosong - Orang Manakah Homo Jakartenis? Esai kali ini dituliskan sedikit berbeda dengan kebanyakan esai - esai sebelumnya. Bahasa yang digunakan di dalam esai ini bisa dibilang cukup baku. Kata - kata yang digunakan pun juga campuran akan kata - kata sehari - hari dan kata - kata yang agak sulit dimengerti. Memang esai ini berbobot sedikit berat. Namun, hal ini bukan berarti esai ini tak cocok dibaca untuk waktu luang. Esai ini sungguh cocok untuk mengisi waktu - waktu luang karena esai ini dapat memberikan wawasan baru akan identitas orang - orang. Menurut saya, sang penulis adalah orang yang bisa dibilang pintar. Di dalam menuliskan esai seperti ini saja, sang penulis menyertakan banyak sekali argumen - argumen yang mendukung pernyataannya. Bahkan, sang penulis pun sampai membuat teori nya sendiri akan hal ini. Sungguh menarik, bukan? Dari membaca esai ini, bukan hanya dapat menghibur, namun dapat belajar hal baru yang dapat memperluas wawasan kita.

Listrik Mati - Tiada Ojek di Paris

Listrik Mati - Bagaimana Kalau Selamanya? Listrik mati terdengar seperti hal yang simpel. Itulah judul esai kali ini. Namun, setelah membacanya dengan benar - benar, esai ini memiliki inti yang jauh lebih dalam dari sekedar ‘listrik mati’. Saya sangat kagum dengan kemampuan sang penulis. Ia dapat menggunakan judul yang singkat dan simpel walaupun pembahasan esainya termasuk cukup dalam. Bahasa yang digunakan di dalam esai ini campuran antara bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Walaupun tak terdapat terlalu banyak bahasa Inggris, masih terdapat beberapa kata bahasa Inggris diantara kalimat - kalimat. Bahasa Indonesia yang digunakan pun juga bukan bahasa Indonesia yang terlalu baku. Melihat dari cara penulisan esai ini, saya rasa sang penulis merasa sangat yakin dengan hal - hal yang ia sampaikan di dalam esai ini. Ia menuliskan kata ‘pasti’ berkali - kali menggunakan huruf besar semua. Hal ini biasa menunjukkan keyakinan akan suatu hal yang sudah sangat matang.

Zebra Cross - Tiada Ojek di Paris

Zebra Cross - Jika Jalanan Menunjukakan Bangsa, Apa Yang Mau Dikatakan Tentang Jakarta? Tak jauh berbeda dengan esai sebelumnya yang berjudul Sarapan Berita, esai ini juga memiliki makna yang sangat bermanfaat bagi pembacanya. Esai ini membahas tentang suatu hal yang hampir semua orang ketahui di Jakarta, yaitu etika di jalanan. Sang penulis dapat menjelaskan sekilas tentang kondisi di jalanan Jakarta, dimana trotoar yang seharusnya buat pejalan kaki saja ‘dipinjam’ oleh sepeda motor untuk melaju. Dengan menjelaskan sedikit tentang situasi jalanan di Jakarta, sang penulis dapat memberikan gambaran kepada pembaca - pembacanya. Kalau menurut saya, esai ini memang dibuat untuk orang - orang Jakarta. Namun, saya yakin bahwa sang penulis pun juga mengetahui bahwa orang - orang dari asal kota lain juga dapat membacanya. Oleh karena itu, penjelasan yang singkat namun jelas ini dapat memberikan pengertian yang jauh lebih baik kepada semua pembaca.